Selamat Datang di Blog KKG PAI Balikpapan, Silahkan dibaca dan dipelajari untuk adik-adik yang saat ini belajar di rumah

Penjelasan Materi PAI Kelas 4 BAB 5 Sesi 1

 

KISAH KETELADANAN NABI AYYUS a.s dan NABI MUSA a.s

Assalamu`alaikum  anak-anak yang soleh solehah….

Hari ini kita kembali lagi belajar pendidikan agama Islam

Namun sebelum belajar, marilah kita berdoa kepada Allah agar apa yang kita pelajari hari ini mendapatkan pahala dari Allah SWT dan bermanfaat untuk kita semua.

Ayo semuanya kita sama-sama angkat tangannya, kita mulai yaah..

Auzu billahi minasy syaithonirrojim

Bismillahirrahmaanirrahim. Robbi zidni ilman, warzuqni fahman…. Waj’alni minas sholihin. Aamin.

Baiklah anak-anak yang soleh-solehah kali ini kita akan belajar tentang kisah teladan Nabi Ayyub as.

Nabi Ayyub a.s. adalah keturunan Nabi Ishaq a.s. bin Ibrahim a.s. Beliau adalah seorang nabi yang kaya raya. Binatang ternaknya banyak. Sawah ladangnya luas. Akan tetapi, beliau tidak pernah sombong. Nabi Ayyub a.s. terkenal sabar dan dermawan. Suka menolong fakir miskin, yatim-piatu, dan orang-orang yang membutuhkan. Nabi Ayyub a.s. pernah mendapat ujian dari Allah. Hartanya yang banyak hari demi hari berkurang sehingga ia jatuh miskin. Walaupun miskin, ia tidak mengemis, imannya tidak goyah karena ia ingat bahwa ketika lahir ke dunia tidak mempunyai apa-apa. Harta datang dari Allah dan kembalinya pun kepada Allah. Karena imannya kuat, setan tak mampu menggodanya. Kaya atau miskin merupakan ujian bagi manusia

Nabi Ayyub a.s., baik ketika kaya raya atau ketika miskin senantiasa taat kepada Allah, selalu bersyukur. Bahkan ketika ia jatuh miskin, harta yang ada selalu ia sedekahkan. Ia yakin, bahwa orang miskin yang bersedekah lebih mulia di sisi Allah Swt. Sebaliknya, orang kaya yang kikir adalah yang paling hina di sisi Allah Swt. Kisah Teladan Nabi Ayyub a.s. Mencontoh sikap teladan Nabi Ayyub a.s. Kemudian, Nabi Ayyub a.s. diuji dengan penyakit kulit, bisul, panas, dan gatal sehingga orang-orang menjauhinya. Bahkan, mereka membuang Nabi Ayyub a.s. ke padang pasir yang jauh dari keramaian penduduk karena takut tertular penyakit. Setelah itu, putra-putrinya meninggal dunia. Sekali pun musibah silih berganti, tetapi tidak membuat dirinya lupa beribadah dan memuji Allah Swt.

Nabi Ayyub a.s. berdo'a kepada Allah Swt. agar penyakitnya itu lekas sembuh. Do'a Nabi Ayyub a.s. dikabulkan Allah Swt. Firman Allah Swt. Q.S. al Anbiya/21:28: " Maka Kami kabulkan (doa) nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya..." itulah tadi kisah Nabi Ayyub as.

Baik Anak-anak yang soleh dan solehah, kita lanjutkan pelajaran selanjutnya yaitu Kisah Keteladanan Nabi Musa as.

Nabi Musa a.s. lahir di zaman Raja Fir’aun. Di masa itu, Fir’aun memerintahkan setiap bayi laki-laki yang lahir harus dibunuh karena pengaruh mimpinya. Menurut ahli nujumnya, mimpi Raja Fir’aun menandakan akan lahir seorang bayi laki-laki dari Bani Israil yang kelak akan membinasaan kekuasaannya. Raja Fir’aun terkenal sombong dan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Allah Swt. melindungi Musa a.s. dengan menurunkan ilham kepada ibu Musa a.s., agar anaknya (Musa a.s.) dimasukkan ke dalam peti, kemudian dihanyutkan ke dalam Sungai Nil. Anak-anakku kemudian Musa diselamatkan oleh seorang wanita bernama Asiyah (istri Fir’aun). Melihat anak itu, Fira’un marah. Akan tetapi, dengan bujuk rayu Asiyah, Fir’aun luluh hatinya, ia tidak jadi membunuh Musa kecil. Suatu ketika, Musa kecil menangis karena kehausan. Asiyah memerintahkan pengawalnya untuk mencari ibu yang dapat menyusui bayi itu. Maka, berdatanganlah wanita-wanita yang ingin menyusui bayi Musa a.s. Namun, setiap kali ada wanita yang hendak memberinya susu, bayi Musa a.s. tidak mau, ia tetap menangis. Hingga, akhirnya, datanglah seorang wanita bernama Yukabad. Wanita ini menggendong dan menyusuinya. Seketika itu juga Musa kecil terdiam dan berhenti menangis, sampai tertidur nyenyak. Mereka tidak mengetahui, ternyata Yukabad adalah ibunya sendiri. Setelah diketahui demikian, Asiyah meminta, agar Yukabad tinggal di lingkungan istana untuk mengasuh Musa kecil. Yukabad pun bersedia, dan dengan senang hati mengasuh anaknya sendiri di lingkungan istana Fir’aun.

Suatu ketika seorang laki-laki bergegas datang kepada Musa a.s., dan berkata, “Hai Musa, sesungguhnya pembesar sedang berunding untuk membunuhmu. Keluarlah dari kota ini. Itulah nasihatku kepadamu”. Musa a.s. mengikuti nasihat orang itu, maka keluarlah ia dengan perasaan khawatir seraya berdoa. Do’a Musa a.s. “Ya Tuhanku, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, bebaskanlah aku dari cengkraman kaum Fir’aun yang aniaya”. Sesampainya di negeri Madyan, ia menjumpai sekumpulan orang yang sedang memberikan minum kepada ternak mereka. Di antara mereka, ada dua orang gadis yang sedang menambat ternaknya. Musa a.s. menyapa, “Mengapa tidak ikut bersama mereka mengambi air?” Kedua gadis itu menjawab, “Kami tidak dapat mengambil air kecuali sesudah orang-orang itu semuanya telah selesai mengambilnya, dan karena kami tidak kuat berebut dan berdesak-desakkan dengan orang banyak itu. Bapak kami sudah tua, karena itu pula tidak sanggup datang kemari untuk mengambil air.” Seketika itu juga Musa a.s. menolong kedua gadis itu untuk memberikan minum kepada ternak mereka. Setelah menolong, Musa a.s. berteduh di bawah pohon, seraya berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku membutuhkan kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. Kedua gadis yang ditolong Musa a.s. pun pulang ke rumahnya, dan menceritakan kepada ayah mereka bahwa telah ditolong seseorang yang berhati mulia. Salah seorang dari gadis itu berkata, “Ya ayahku, ambillah ia (Musa) sebagai orang yang bekerja kepada kita. Kelihatannya ia orang yang kuat dan dapat dipercaya”. Si ayah, mengabulkan permintaan putrinya. Ternyata, ayah kedua wanita itu tak lain adalah Nabi Syu’aib a.s.. Di sinilah perjumpaan antara Nabi Syu’aib a.s. dengan Nabi Musa a.s.. Pada akhirnya Nabi Syu’aib a.s. menikahkan salah satu putrinya dengan Musa a.s..

Nabi Musa a.s. telah diberi Tuhan mukjizat, yaitu tongkat yang dapat dijadikan ular. Tangan Musa a.s. dapat mengeluarkan cahaya dan menjadi pelindung baginya dari ketakutan. Kedua mukjizat inilah yang dijadikan Musa a.s. untuk melawan Firaun bersama tukang sihirnya. Kedatangan Nabi Musa a.s. di Mesir membuat Fir’aun marah dan menuduhnya Musa a.s. sebagai tukang sihir yang hendak mengusir Fira’un dari negeri itu. Musa a.s. telah mengingatkan Fir’aun, ”Janganlah kamu membuat dusta, nanti kamu dibinasakan dan mendapat siksa Allah Swt.” Fira’un dan tukang sihirnya tetap saja melawan dan menantang. Akhirnya, Musa a.s. meladeninya, dan berkata: “Kalau begitu, kumpulkanlah semua tukang sihirmu, datanglah beramai-ramai, kita berjumpa di suatu tempat”. Di hari perjumpaan itu, tukang sihir Fir’aun berkata, “Ya, Musa! lemparkanlah tongkatmu lebih dahulu, atau kami yang akan memulai lebih dahulu?” Sahut Musa a.s., “Kamulah lebih dahulu.” Lalu tukang sihir Fir’aun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular menjalar mengelilingi Nabi Musa a.s.. Di saat demikian, Allah Swt. berfirman, Artinya: “Dan lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). Dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datangnya”. Nabi Musa a.s. mengikuti perintah Allah Swt. Kemudian, ia melemparkan tongkatnya, seketika itu jadilah ular besar merayap sambil memakan ular-ular tukang sihir Fir’aun. Kejadian ini membuat sebagian tukang sihir Fir’aun mengaku kalah dan bersujud kepada Tuhan. Sebagaimana firman Allah : Artinya: “Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata: Kami telah percaya kepada Tuhan Harun dan Musa.” Karena melihat tukang sihirnya telah beriman kepada Nabi Musa a.s., demikian juga istrinya, Siti Asiyah, maka Fir’aun bertambah marah dan ganas. Bersama bala tentaranya, dia menyiksa orang-orang yang beriman termasuk istrinya sampai mati. Melihat yang demikian, Nabi Musa a.s. dan orang-orang yang beriman mundur dan melarikan diri dari kota Mesir. Fir’aun dan tentaranya terus mengejar Nabi Musa a.s. dan pengikutnya sampai ke dekat Laut Merah. Nabi Musa a.s. dan pengikutnya kebingungan. Di saat terdesak itu turun wahyu dari Allah Swt. yang memerintahkan agar Musa a.s. memukulkan tongkatnya ke permukaan laut merah. Tiba-tiba saja, laut membelah menjadi dua bagian. Jalan yang panjang telah terentang di hadapan mereka. Nabi Musa a.s. dan pengikutnya terus berlari mengikuti jalan panjang yang telah terbentang menuju seberang. Di kejauhan, terlihat Fir’aun dan bala tentaranya terus saja mengejar Nabi Musa a.s.. Akhirnya Nabi Musa a.s. sampai di seberang dengan selamat. Sementara Fira’un dan tentaranya masih berada di pertengahan jalan. Di saat itulah, Allah Swt. mengembalikan laut merah seperti semula. Fira’un dan tentaranya pun ditelan oleh air laut. Demikianlah pembalasan dari Allah Swt. terhadap orang yang durhaka.

Baiklah anak-anak yang soleh-solehah demikianlah pelajaran kita hari ini. Sebagai anak Shalih kita harus meneladani sikap para nabi yang selalu sabar dalam menghadapi cobaan dan tidak sombong ketika hartanya berlimpah. Semoga apa yang kita pelajari hari ini bermanfaat, Aamin 3X ya Rabbal Alamin. Yuuk kita tutup pelajaran kali ini dengan membaca Hamdallah “Alhamdulillahi Rabbil `Aalamiiin”.

Wassalamu Alaikum wr.wb.

Anak-anak bisa langsung simak juga videonya...!!!

LihatTutupKomentar